Make your own free website on Tripod.com
Alumni UNSOED
Home | Kuliner Purwokerto | Siapakah Djenderal Soedirman ? | Foto Kampus Unsoed | Opini | About Ika UNSOED | University/Alumni News | Profil Alumni | Calendar of Events | Cerita dan Foto Kenangan | Job Fair/Bisnis/Beasiswa | Kiriman Foto Kenangan | Links | Data Alumni | Forum Alumni-Unsoed
Opini

 

DEBATE IS LIFE

Heny Mustikasari

    Tahun 1997 Unsoed menerima invitation untuk mengikuti JAVA OVERLAND INTER-VARSITY DEBATE CHAMPIONSHIP (JO) pertama di Universitas Parahiyangan, Bandung. Perwakilan adalah Mara Umar (IESP 94), Roos Afrida (LAW 95) dan Arie Sudiantoro (LAW 95) dari Student English Forum (SEF) dengan pertimbangan debat dilaksanakan dengan menggunakan bahasa Inggris. At that moment we were like walking in the dark. Disana digelar Indonesian Council Meeting, forum evaluasi pelaksanaan debat yang dihadiri oleh perwakilan debater dari semua participating universities, yang menghasilkan resolusi untuk mengadakan  JO ke-2 di Universitas Indonesia. Tahun 1998 Unsoed menerima undangan untuk mengikuti kejuaraan nasional debat antar universitas pertama di Indonesia dengan nama Indonesian Varsities English Debate (IVED) di UI Jakarta. Rupanya debater UI memperluas cakupan debater tidak hanya Java overland varsities tapi juga Indonesian varsities.

Tim dibentuk secara spontan karena saat itu memang hal tersebut merupakan hal baru, tim pertama beranggotakan Bahrul Uung Wijaksana (FISIP 92), Basiswanto Wiratama (ACCOUNTING 94), Mara Umar (IESP 94), tim kedua beranggotakan Didin P Komara (MANAGEMENT 95), Arie Sudiantoro (LAW 95) dan Tubagus (LAW 95). Saat itu, walaupun untuk pertama kalinya Unsoed berlaga di kejurnas debat tim pertama berhasil masuk final dan meraih tempat ke-2, tempat pertama diduduki oleh tim UI.

Sejak itu konsep debat dimasyarakatkan di dunia kampus Jenderal Soedirman oleh SEF dengan diselenggarakannya INTER FACULTY DEBATE CHAMPIONSHIP (IFDC) pertama tahun 1998. SEF dapat dianggap sebagai pembawa iklim debate dalam bentuk kompetisi di Unsoed. Banyak kendala dihadapi pada IFDC pertama seperti kurangnya peserta dan juri karena hambatan bahasa, namun semakin lama peserta dan juri semakin bertambah dengan kualitas yang lebih baik. IFDC kemudian menjadi program yang diselenggarakan setiap tahun.

Tim debat terdiri dari 3 orang (1st, 2nd and 3rd Speaker), waktu berbicara diberikan selama 7 menit 20 detik, bila waktu yang digunakan lebih dari 720atau kurang dari 6 akan dikenakan penalti angka. Saat bertanding akan diberikan sebuah tema/ motion debat dan 2 tim yg bertanding akan ditentukan untuk mendukung motion (affirmative) atau menolak motion (negative). Contoh beberapa motion untuk diperdebatkan antara lain:

  1. That Men are from mars and Women are from venus
  2. That Government should legalized Euthanasia
  3. That size does matter

Juri berjumlah ganjil akan menentukan pemenang atas dasar matter (reasoning, argument, facts), manner (gesture, eye contact, intonation, pace) dan method (mastery of rules and regulation). Gaya bicara, penampilan, mental, pengetahuan, dan kemampuan meyakinkan sangat menentukan berhasil atau tidaknya kita meyakinkan juri untuk memihak tim kita, karena dalam berdebat tidak ada yg salah dan benar, yang ada adalah meyakinkan atau tidak!!!

Daftar kejuaraan debat mahasiswa nasional beserta prestasinya:

JAVA OVERLAND INTER-VARSITY DEBATE CHAMPIONSHIP (JO) for university in Jawa only

Events

Host

Year

Remarks

1st JO

Parahiyangan Univ.

1997

First attempt

2nd JO

Parahiyangan Univ.

1998

 

3rd JO

Trisakti Univ.

1999

3rd winner, Heny Mustikasari (MANAGEMENT 96), Sulung Anggroro Seto (LAW 97) and Fitriani (ACCOUNTING 97)

4th JO

Jenderal Soedirman Univ.

2000

Host

5th JO

Parahiyangan Univ.

2001

 

6th JO

STAN

2002

 

7th JO

Satya Wacana Christian Univ.

2003

 

 Inter Varsity English Debate (IVED) for all univeristy trough out indonesia

Events

Host

Year

Remarks

1st IVED

Indonesia Univ.

1998

2nd Winner; Bahrul Uung Wijaksana (FISIP 92), Basiswanto Wiratama (ACCOUNTING 94), Mara Umar (IESP 94)

2nd IVED

Atmajaya Univ.

1999

 

3rd IVED

Petra univ. & AAL

2000

Top 5 national best speaker Heny Mustikasari (MANAGEMENT 96)

4th IVED

ITB

2001

Best of National Best Speaker Heny Mustikasari (MANAGEMENT 96)

5th IVED

Hasanuddin Univ.

2002

 

6th IVED

Sumatera Utara Univ.

 

 

 Kejuaraan debat internal Jenderal Soedirman:

INTER FACULTY DEBATE CHAMPIONSHIP (IFDC)

Events

Host

Year

Winner

1st IFDC

Student English Forum

1998

Law Faculty

2nd IFDC

Student English Forum

1999

Economics Faculty

3rd IFDC

Student English Forum

2000

Biology Faculty

4th IFDC

Student English Forum

2001

Law Faculty

5th IFDC

Student English Forum

2003

Social Politics Faculty

 Apa yang perlu diasah untuk berdebat dengan quality and classy?

         English - 7 menit adalah waktu yg singkat dan kita harus berbicara lancar dan meyakinkan

         Analytical and logic - kemampuan untuk menganalisa sebelum, selama dan setelah debat. Serta kemampuan untuk menjelaskan secara runtun dan logis

         Knowledge - pengetahuan umum dan khusus yang luas sangat diperlukan, juga world news and issues.

         Self confident - percaya diri itu harus, if we can not convince ourself then how can we expect to convince others?

         Psycological - kemampuan menjaga stabilitas mental tim dan memanipulasi mental lawan, psycological war is one of the key role.

         Public speaking - kemampuan untuk memukau dan meyakinkan juri dan audience

         Style - gaya dan ciri khas individual dalam berdebat

 Dan apa manfaatnya menjadi seorang debater?

         English - practice makes perfect

         Logic - build an advance logical structure

         Information and knowledge - gaining more up dated information and knowledge

         Sharping our public speaking ability

         Increasing psycological expiriences

         Fully self confident

         Team work advancement

         Interpersonal development

         Open minded and open hearted to accept different ideas and to accept winning or loosing

Saat ini debat sudah cukup populer di kalangan civitas akademika Unsoed, peserta dari masing-masing fakultas yang cukup antusias dan dosen-dosen yang berani dan mau menjadi juri. Semoga debat di lingkungan Jenderal Soedirman tidak hanya menjadi ajang adu gengsi namun bisa merembes ke urat nadi dan menjadikan debate is life itself.

Good Government Vision
(Luhur Pambudi, Alumni Pasca Sarjana Unsoed)
 
     Di negeri ini sudah sering terjadi tindakan pidana macam korupsi, seperti yang di metro bebarap waktu yang lalu, yang jelas-jelas dilakukan Winfried Simatupang, Dadang Sukandar, Syahril Sabirin, Akbar Tanjung, Belum lagi kasus penyalahgunaan BLBI yang melibatkan mantan bankir Syamsur Nursalim. Sebagaimana masyarakat, para tokoh, intelektual,politikus, LSM paham betul bahwa yang dilakukan jelas tindakan pidana. Pelanggaran, kesalahan, yang mereka lakukan jelas terlihat. Ada saksi, ada data, ada identitas pihak yang dirugikan. Jadi dugaan tersebut pantas ditindaklanjuti dalam suatu dakwaan.
   Namun, yang kita bisa pelajari dari negeri ini, tidak semua tindak pidana tersebut menjadi P E R K A R A  H U K U M. Mengapa? Di negeri yang katanya bernama Indonesia kita belajar bahwa hokum ternyata bukan panglima. Sering tokoh dan para intelektual hokum mengatakan negeri ini berdasarkan hukum. Tapi justru menurut saya, negeri yang katanya bernama Indonesia bukan berdasarkan hukum, tetapi KE K U A S A A N. Inilah yang menjadi panglima yang meresap ke segala sendi kehidupan masyarakat. Melalui proses manipulasi dan intelektual yang dilacurkan oleh sebagian tokoh masyarakat, "beruntung" saya bisa belajar bahwa hukum di negara yang katanya bernama Indonesia telah ter-SUBORDINASI oleh kekuasaan. Karenanya tidak heran bila banyak kasus korupsi, yang jelas-jelas tindakpidana, yang jelas jelas-jelas menimbulkan kerugian bagisebagian masyarakat, yang jelas-jelas merendahkan derajad dan citrabangsa, menguap begitu saja oleh intervensi kekuasaan
    Siapa di negeri yang berani melawan kekuasaan? Kebenaran? Keadilan? Masih adakah kebenaran dan keadilan yang OBYEKTIF di negeri yang katanya bernama Indonesia? Kebenaran obyektif dalam arti mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi, tanpa memanipulasi fakta melalui metoda kekuasaan. Keadilan obyektif adalah vonis yang menyatakan seseorang bersalah atau tidak tanpa tidak membedakan maupun memandang status, pangkat, jabatan, identitas yang bersangkutan. Masih terlalu langka di negeri yang katanya bernama Indonesia mencari kebenaran dan keadilan obyektif. Yang ada hanyalah kebenaran dan keadilan subyektif yang coba diasumsikan sebagai kebenaran maupun keadilan obyektif.
    Siapapun manusia di negeri yang katanya bernama Indonesia, terlibat dalam kasus hukum, selama ia dekat penguasa/kekuasaan, dan eksistensi dirinya dipandang menguntungkan sang penguasa, memungkinkan besar ia akan bersih dari cacat hukum. Minimal dia dijauhkan dari keharusanmenanggung sanksi hukum. Seandainya hukum di negeri yang katanya bernama Indonesia masih mengakui adanya sanksi hukum.
   Pernyataan ini baru hanya hipotesa yang saya tangkap dari pengamatan subyektif, pengalaman sepihak. Kalaupun ada rekan yang punya pandangan sama itu hanya kebetulan saja. Terlalu awal untuk digeneralisir. Saya pun berharap akan muncul intelektual yang dapat membuktikan hipotesa ini tidak benar dan tidak berdasar. Mereka yang menggeluti dunia hukum saya yakin bisa bertutur lebih Logis melalui nalar hukum. Saya hanya manusia biasa yang kebetulan tergabung dalam masyarakat yang katanya bernama Indonesia. Bukan praktisi apalagi intelektual hukum.  Hanya sebagai pra-kuli harian yang mencoba mengais rejeki di sebuah institusi bank.
    Lalu apa yang dapat saya rekomendasikan dalam keawaman hukum? Bersyukurlah jika kita berada diluar lingkaran perkara hukum. Beruntunglah bila kita berada diluar lingkungan para kekuasaan. Meski itu harus ditebus dengan kerelaan (maupun keterpaksaan) hidup dalam keterbatasan materi maupun bentuk penghormatan lain. Lalu, menjadi suatu kesempatan bagi kita untuk belajar sekaligus mengukuhkan komitmen diri bahwa kita jangan seperti mereka. Meski tidak selalu korupsi menjadi perkara hukum. Lebih baik dari sekarang kita siapkan mental diri bila kelak menjadi penguasa agar jangan terjebak dalam lingkaran korupsi. Mulailah membiasakan diri menempatan nurani dan moral menjadi panglima diri. Meski fakta sekarang ini mengatakan : Negeri yang katanya bernama Indonesia adalah salah satu negara terkorupsi terbesar di dunia, namun TANPA KORUPTOR.

.

Enter supporting content here